Senin, 12 Oktober 2015

NAMA            :           SARI OTAVIA
KELAS           :           SATU D
NPM               :           15410172
MAKUL         :           MEMBACA TEKNIK DAN PEMAHAMAN



Teater Tikar Semarang


Mengancam Kenangan
Oleh : Sari Otavia
Pertunjukan Teater Tikar Semarang merupakan salah satu pertunjukan teater yang ada di daerah Semarang. Teater Tikar ini juga merupakan salah satu komunitas yang ada di Semarang. Teater Tikar berdiri sejak tanggal 15 september 2012. Selain di sekitar Semarang. Teater Tikar juga sering mengadakan pertunjukjan di luar Semarang seperti di Surakata, Tegal, dan Purwokerto. Biasanya Teater Tikar mengadakan pertunjukan di beberapa universitas, kemarin pada tanggal 8 oktober 2015, Universitas PGRI Semarang atau biasa dikenal dengan UPGRIS, menjadi salah satu universitas yang kedatangan Teater Tikar.
 Dalam pertunjukan yang berlangsung selama kurang lebih dua jam tersebut Teater Tikar mengangkat naskah yang berjudul ”mengancam kenangan” sesuai dengan judulnya yaitu mengancam, suasana panggung teater juga buat dengan sangat mencekam, serba hitam,  dan ada beberapa plastik yang menjulang tinggi yang di ibaratkan sebagai pigura-pigura, di bagian paling belakang juga terdapat benang- benang panjang yang diatur sedemikian rupa supaya menunjukkan kesan”mengancam”. Diantara dua pigura itu juga terdapat patung yang digantung, ibarat bayangan seorang wanita.


Pertunjukan dimulai dengan seorang Nyonya yang sedang melakukan rutinitasinya setiap pagi tiba, yaitu nyapu debu dan kerikil-kerikil kecil yang ada di ubin teras rumah nya. Ada juga debu yang menempel di pigura pigura yang penasaran dengan rutinitas yang di lakukan oleh Nyonya, seperti tidak ada lelah dan bosan dengan rutinitas yang di lakukan oleh Nyonya seperti tidak ada lelah dan bosan dengan rutinitas yang selalu di lakukannya itu. Ternyata Nyonya melakukan rutinitas itu  bukan tanpa alasan, Nyonya menyapu ubin teras rumahnya dan membayangkan serta mengenang, kala itu ada sepasang jejak kaki kecil dan kaki besar yang selalu menyertainya ada di ubin itu . Ternyata jejak kaki itu adalah milik Nyonya dan anak laki- lakinya yang kini telah pergi bersama kekasih pilihan hatinya. Nyonya juga mengusap debu yang ada di pigura dan sesekali meneteskan air mata karena rindu akan kehadiran sosok dalam pigura tersebut yang kini tengah pergi entah kemana bersama dengan sayap emasnya, itulah alasan Nyonya setiap pagi menjalani rutinitas yang membuat debu debu penasan, yaitu hanya untuk mengenang orang-orang yang pernah ada dalam hidup Nyonya yang tengah pergi meninggalkan nyonya bersama dengan perempuan pilihan mereka.
Di sisi lain anak laki-laki yang bersama dengan kekasih pilihanya sedang bercakap- cakap. Anak laki laki itu menceritakan apa yang sedang ia rasakan bahwa ia merasa rindu dengan cerita-cerita dari kekasihnya yang dulu selalu mereka lakukan. Tetapi kekasihnya menolak untuk menceritakannya lagi dan malah menyuruh anak laki-laki itu agar membiarkan rindu itu menggunung dan akhirnya meneteskan hujan keresahan. Anak laki-laki itu selalu mendatangi kekasihnya dan tidak pernah melewatkannya, barang satu detik pun.


 Di hari yang lain, anak laki-laki mencari kekasih nya karena mereka biasanya berdua selalu di tempat itu untuk bercerita. Tetapi lain dengan hari itu, sang kekasih tidak ada untuk bercerita, yang ada di sana hanyalah bayangan hitam dari wanita itu dan aroma tubuh yang belum hilang. Anak laki-laki itu terus mencari kekasih nya, tetapi tidak ada satu orang pun yang berada di tempat itu. Setelah mereka bertemu, si anak laki-laki pun kembali bercerita apa yang ia rasakan kepada sang kekasih, tetapi sang kekasih malah menyuruh anak laki-laki itu menenggelamkan cerita-ceritanya ke dalam bak mandi dan jangan lupa untuk selalu mengganti airnya jika sudah berjam-jam berada disana, agar cerita mereka turut terbuang. Setelah perjuangan melawan kerinduan kepada sang kekasih, ternyata balasan dari sang kekasih sangat kejam. Sang kekasih malah menyuruh si anak laki-laki untuk melupakan semua kenangan mereka berdua dan menyingkirkan semua bayangan dan juga ancaman.
Sedalam apapun kita menyembunyikan dan serapat apapun kita menutup kenangan, dia akan sealu hadir kapan dan dimanapun kita berada. Itulah kenangan yang selalu mengancam. Dan kini Nyonya juga sedang merasa semakin terancam oleh kenangan, pada pagi hari, di malam hari, kenangan selalu menghamipi Nyonya kapan dan dimana pun Nyonya berada. Padahal Nyonya tidak pernah saling memberi ancaman kepada kenangan. Disuatu ketika, saat kepala sang anak berada diatas pangkuan nya dan meminta untuk diceritakan kisah-kisah ayah nya dari mulut Nyonya, tetapi Nyonya menolak nya karena tidak ada suatu ketika dari cerita itu bermula, maka tidak ada juga cerita selanjutnya. Kemudian sang anak pun meminta diceritakan tentang dongeng-dongeng yang lain, tetapi Nyonya selalu menolak untuk bercerita.
Setiap saat dinding selalu berbicara kepada Nyonya dengan bahasa-bahasa yang tidak Nyonya pahami perihal kenangan yang sulit hilang dan Nyonya selalu merasa diancam olehnya. Coretan-coretan di dinding itu juga berbicara perihal cerita-cerita yang datang dari masa lalu. Dan kenangan itu datang menemui, seperti mengutuk masa lalu, membayangi masa depan, bahkan mengutuk seluruh hidup Nyonya.
Di pagi itu, Nyonya enggan menyapu teras rumahnya, kerikil-kerikil itu dibiarkan nya mengotori dan minggir sendiri. Dengan amarah yang sudah tidak tertahan, Nyonya menyingkirkan tiga pigura yang berjajar di ruang tamunya. Nyonya tidak ingin meletakkan lagi jemarinya di atas sana. Semua debu-debu beterbangan menyingkir di pagi. Di pagi itu, Nyonya berharap kenangan itu akan turut ikut masuk ke laci bersama pigura-pigura yang disimpan nya rapi. Nyonya teringat lagi tentang sebuah pagi dimana kepala itu tenggelam di dadanya, tangis yang meledak di dadanya, kemudian derap langkah itu semakin mendekat dan terdengar membahayakan, seperti seribu serdadu yang datang tiba-tiba di pagi buta.
Ketika harapan sudah tidak ada,sudah pupus sepenuhnya maka yang hanya bisa dipilih adalah kenangan. Anak laki-laki pun merasa sangat kehilangan kekasihnya, kekasih yang dulu dipilihnya dengan meminta izin Nyonya dan kepergian anak laki-laki masih belum bisa Nyonya terima.
Nyonya kemudian membuka laci dimana pigura ditat rapi. Dimana harapan bahwa setelah pigura itu dipindah letakkan, maka kenangan akan turut ikut pergi. Namun, yang ada justru Nyonya lebih sering membuka laci dimana pigura-pigura itu tergeletak. Debu-debu yang semula menempel dipigura berterbangan, terlihat jelas ketika terbias lampu kamar yang putih terang dinding-dinding yang penuh dengan coretan juga Nyonya jadikan sebagai tempat pelampiasan sebagai tempat membuang kenangan bergumam-gumam tentang bak mandi yang isinya Nyonya biarkan meluber begitu saja. Nyonya mendengar bisikan-bisikan dari pendar lampu kamarnya.Tidak menyadari bahwa kakinya sudah setengah tenggelam terkena air yang tiada henti mengalir dari dalam bak mandi itu.
Nyonya terus mengusap piguranya dan tidak lekas menutup laci itu. Dalam hatinya merasa tidak mampu, bahkan kenangan itu rasanya semakin menguat semenjak ia berusaha menjauhkan nya. Sejak ia menurunkan pigura-pigura itu dari tempatnya, kenangan itu justru semakin lekat pada bayangan nya. Di ruang tamunya terasa kosong, pigura itu sudah tidak ada disana, namun di matanya seperti masih saja menempel benda itu ditempatnya. Ternyata kenangan jauh lebih mengerikan dari yang ia duga.

Anak laki-laki yang ditunggu-tunggu Nyonya itu masih belum menyadari bahwa Nyonya menunggunya, menanti kehadiran jejaknya diteras rumah. Anak laki-laki yang menggores kenangan untuk Nyonya itu justru hanya menyadari bahwa wanita lain telah membuatkan nya sebuah kenangan, menciptakan sebuah pohon hijau rindang untuknya, dimana ia ada dibawahnya dan menanti satu-persatu dedaunan gugur. Susah payah ia mengeruk tanah sedalam-dalamnya dan mengubur wanita itu hidup-hidup, seolah wanita itu adalah bangkai tikus yang membusuk. Ia mengeruk tanah dengan seluruh tenaga hingga jemarinya menghitam. Pohon yang mengering di atas kepalanya sudah semakin mengering, tidak tersisa daun satupun. Anak laki-laki yang ditunggu-tunggu Nyonya itu masih belum menyadari juga perihal Nyonya yang menghabiskan sisa masa hidup dengan mengusap pigura berisi gambar wajahnya yang tersenyum bahagia.Ia hanya tau bahwa hatinya patah,semakin patah ketika mengenang wanita yang aromanya tubuhnya tertinggal didalam bak mandinya.Hingga yang ia lakukan adalah tenggelam dalam kenangan yang ia anggap akan menghabisi seluruh sisa masa hidupnya.Mengeruk dalam-dalam tanah yang ada dibawah pohon itu untuk mengubur sedalam mungkin kenangan nya dan,masih belum menyadari juga bahwa walau tubuh wanita itu terbukur sedalam mungkin,tetpi kenangan tidak akan pernah ikut terkubur disana.
Mereka beduamungkin sama seperti pagi dan malam yang bersekutu untuk menghadirkan kenangan. Lewat indra, visualisasi, suara dan sentuhan,bersama rasa yang bahagia,marah,dan sedih.Sempurna kenangan itu datang.Kenangan itu datang dengan undangan yang tidak disengaja,dan setelah itu,tidak mau pergi.Sepanjang masa hidup,maka kenangan itu akan semakin menjadi,semakin menumpuk dan tidak akan ada habisnya.Tetapi,sayang nya selalu ada ruang untuk kenangan itu semakin tumbuh besar.Dan,sayang nya tidak pernah ada yang mampu menemukan bagaimana cara kenangan itu dimusnahkan.
Dipagi ketika pagi mengantarkan jejak itu diteras rumahnya,Nyonya tidak bisa memilih akan menangis sedih/bahagia.Sedih karena kenangan nya seketika menepi.Bahagia karena kenangan nya berada di depan mata.Anak laki-laki yang Nyonya ceritakan pada dinding-dinding dan debu yang berpendar dilampu kamar nya menjejakkan kaki di teras rumah sang anak kemudian meminta Nyonya untuk menceritakan sebab Ayah dan sayap emasnya pergi.Namun Nyonya hanya diam saja satu-satunya yang mengerti hanyalah bekas pigura yang pernah tergantung diruang tamunya dan debu-debu yang masih setia menempel disana.Dan satu-satunya tangan yang bisa menghentikan laju air adalah miliknya.Bak mandi itu sudah penuh hinggar airnya meluber keseluruh ruangan,sama sepeti kenangan yang memenuhi seluruh ruang hidup mereka. Sama seperti kenangan yang menyimpan rapat-rapat rahasia setiap insan.Dan,karena ialah penjaga rahasia paling sempurna,setiap insan akan merasa diancam oleh masa lalunya,masa yang sedang dilaluinya dan masa depan yang menantinya.Sama seperti kenangan yang sangat bungkam pada setiap apa yang dilalui,setiap insan akan merasa diancam oleh apa yang ia lalui sendiri tanpa orang lain dan,cara terbaik menyikapi ancaman pada kenangan adalah dengan menerima,menyaksikan dan berlapang dad a bahwa kenangan itu akan ada ditempat nya pada seluruh sisa hidupmu.
Itu tadi adalah beberapa ulasan tekait Teater Tikar yang pada saat itu di pentaskan di Universitas PGRI Semarang tepatnya di  Gedung Pusat Lantai 7. Dari ulasan di atas dapat di simpulkan bahwa seorang wanita yang di tinggal oleh suaminya pergi bersama “sayap emas nya” , kemudian ditinggalkan oleh anak nya juga pergi bersama dengan wanita pilihan hatinya, tetapi sang anak di sia-siakan oleh kekasihnya itu..
            Pesan yang dapat di ambil dari ulasan Teater Tikar itu adalah hal yang bisa membuat gagal adalah masih berpikir tentang masa lalu yang belum tentu baik, maka dari itu kita harus bisa memposisikan kenangan seobjektif mungkin supaya tidak menghambat masa depan kita.. jadi mari kita ancam kenangan masalalu itu, dan cara terbaik menghadapi kenangan yang mengancam adalah dengan membiarkannya datang pergi sesukanya, karena kenangan tidak akan bisa di hilangkan ibarat air yang ada di bak mandi, walaupun selalu di ganti akan tetap ada, begitu juga dengan kenangan yang selalu ada dan menyertai kita kapan dan di mana pun
Semangat move on kawan...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar