NAMA : SARI
OTAVIA
KELAS : SATU
D
NPM : 15410172
MAKUL : MEMBACA
TEKNIK DAN PEMAHAMAN

Mengancam Kenangan
Oleh : Sari Otavia
Pertunjukan Teater Tikar Semarang merupakan salah satu pertunjukan
teater yang ada di daerah Semarang. Teater Tikar ini juga merupakan salah satu
komunitas yang ada di Semarang. Teater Tikar berdiri sejak tanggal 15 september
2012. Selain di sekitar Semarang. Teater Tikar juga sering mengadakan
pertunjukjan di luar Semarang seperti di Surakata, Tegal, dan Purwokerto.
Biasanya Teater Tikar mengadakan pertunjukan di beberapa universitas, kemarin
pada tanggal 8 oktober 2015, Universitas PGRI Semarang atau biasa dikenal
dengan UPGRIS, menjadi salah satu universitas yang kedatangan Teater Tikar.
Dalam pertunjukan yang
berlangsung selama kurang lebih dua jam tersebut Teater Tikar mengangkat naskah
yang berjudul ”mengancam kenangan” sesuai dengan judulnya yaitu mengancam,
suasana panggung teater juga buat dengan sangat mencekam, serba hitam, dan ada beberapa plastik yang menjulang
tinggi yang di ibaratkan sebagai pigura-pigura, di bagian paling belakang juga
terdapat benang- benang panjang yang diatur sedemikian rupa supaya menunjukkan
kesan”mengancam”. Diantara dua pigura itu juga terdapat patung yang digantung,
ibarat bayangan seorang wanita.

Pertunjukan dimulai dengan seorang Nyonya yang sedang melakukan
rutinitasinya setiap pagi tiba, yaitu nyapu debu dan kerikil-kerikil kecil yang
ada di ubin teras rumah nya. Ada juga debu yang menempel di pigura pigura yang
penasaran dengan rutinitas yang di lakukan oleh Nyonya, seperti tidak ada lelah
dan bosan dengan rutinitas yang di lakukan oleh Nyonya seperti tidak ada lelah
dan bosan dengan rutinitas yang selalu di lakukannya itu. Ternyata Nyonya
melakukan rutinitas itu bukan tanpa
alasan, Nyonya menyapu ubin teras rumahnya dan membayangkan serta mengenang,
kala itu ada sepasang jejak kaki kecil dan kaki besar yang selalu menyertainya
ada di ubin itu . Ternyata jejak kaki itu adalah milik Nyonya dan anak laki-
lakinya yang kini telah pergi bersama kekasih pilihan hatinya. Nyonya juga
mengusap debu yang ada di pigura dan sesekali meneteskan air mata karena rindu
akan kehadiran sosok dalam pigura tersebut yang kini tengah pergi entah kemana
bersama dengan sayap emasnya, itulah alasan Nyonya setiap pagi menjalani
rutinitas yang membuat debu debu penasan, yaitu hanya untuk mengenang
orang-orang yang pernah ada dalam hidup Nyonya yang tengah pergi meninggalkan
nyonya bersama dengan perempuan pilihan mereka.
Di sisi lain anak laki-laki yang bersama dengan kekasih pilihanya sedang
bercakap- cakap. Anak laki laki itu menceritakan apa yang sedang ia rasakan
bahwa ia merasa rindu dengan cerita-cerita dari kekasihnya yang dulu selalu
mereka lakukan. Tetapi kekasihnya menolak untuk menceritakannya lagi dan malah
menyuruh anak laki-laki itu agar membiarkan rindu itu menggunung dan akhirnya
meneteskan hujan keresahan. Anak laki-laki itu selalu mendatangi kekasihnya dan
tidak pernah melewatkannya, barang satu detik pun.

Di hari yang lain, anak laki-laki
mencari kekasih nya karena mereka biasanya berdua selalu di tempat itu untuk
bercerita. Tetapi lain dengan hari itu, sang kekasih tidak ada untuk bercerita,
yang ada di sana hanyalah bayangan hitam dari wanita itu dan aroma tubuh yang
belum hilang. Anak laki-laki itu terus mencari kekasih nya, tetapi tidak ada
satu orang pun yang berada di tempat itu. Setelah mereka bertemu, si anak
laki-laki pun kembali bercerita apa yang ia rasakan kepada sang kekasih, tetapi
sang kekasih malah menyuruh anak laki-laki itu menenggelamkan cerita-ceritanya
ke dalam bak mandi dan jangan lupa untuk selalu mengganti airnya jika sudah
berjam-jam berada disana, agar cerita mereka turut terbuang. Setelah perjuangan
melawan kerinduan kepada sang kekasih, ternyata balasan dari sang kekasih
sangat kejam. Sang kekasih malah menyuruh si anak laki-laki untuk melupakan
semua kenangan mereka berdua dan menyingkirkan semua bayangan dan juga ancaman.
Sedalam apapun kita menyembunyikan dan serapat apapun kita menutup
kenangan, dia akan sealu hadir kapan dan dimanapun kita berada. Itulah kenangan
yang selalu mengancam. Dan kini Nyonya juga sedang merasa semakin terancam oleh
kenangan, pada pagi hari, di malam hari, kenangan selalu menghamipi Nyonya
kapan dan dimana pun Nyonya berada. Padahal Nyonya tidak pernah saling memberi
ancaman kepada kenangan. Disuatu ketika, saat kepala sang anak berada diatas
pangkuan nya dan meminta untuk diceritakan kisah-kisah ayah nya dari mulut
Nyonya, tetapi Nyonya menolak nya karena tidak ada suatu ketika dari cerita itu
bermula, maka tidak ada juga cerita selanjutnya. Kemudian sang anak pun meminta
diceritakan tentang dongeng-dongeng yang lain, tetapi Nyonya selalu menolak
untuk bercerita.
Setiap saat dinding selalu berbicara kepada Nyonya dengan bahasa-bahasa
yang tidak Nyonya pahami perihal kenangan yang sulit hilang dan Nyonya selalu
merasa diancam olehnya. Coretan-coretan di dinding itu juga berbicara perihal
cerita-cerita yang datang dari masa lalu. Dan kenangan itu datang menemui, seperti
mengutuk masa lalu, membayangi masa depan, bahkan mengutuk seluruh hidup
Nyonya.
Di pagi itu, Nyonya enggan menyapu teras rumahnya, kerikil-kerikil itu
dibiarkan nya mengotori dan minggir sendiri. Dengan amarah yang sudah tidak
tertahan, Nyonya menyingkirkan tiga pigura yang berjajar di ruang tamunya. Nyonya
tidak ingin meletakkan lagi jemarinya di atas sana. Semua debu-debu beterbangan
menyingkir di pagi. Di pagi itu, Nyonya berharap kenangan itu akan turut ikut
masuk ke laci bersama pigura-pigura yang disimpan nya rapi. Nyonya teringat
lagi tentang sebuah pagi dimana kepala itu tenggelam di dadanya, tangis yang
meledak di dadanya, kemudian derap langkah itu semakin mendekat dan terdengar
membahayakan, seperti seribu serdadu yang datang tiba-tiba di pagi buta.
Ketika harapan sudah tidak ada,sudah pupus sepenuhnya maka yang hanya
bisa dipilih adalah kenangan. Anak laki-laki pun merasa sangat kehilangan
kekasihnya, kekasih yang dulu dipilihnya dengan meminta izin Nyonya dan
kepergian anak laki-laki masih belum bisa Nyonya terima.
Nyonya kemudian membuka laci dimana pigura ditat rapi. Dimana harapan
bahwa setelah pigura itu dipindah letakkan, maka kenangan akan turut ikut
pergi. Namun, yang ada justru Nyonya lebih sering membuka laci dimana
pigura-pigura itu tergeletak. Debu-debu yang semula menempel dipigura
berterbangan, terlihat jelas ketika terbias lampu kamar yang putih terang dinding-dinding
yang penuh dengan coretan juga Nyonya jadikan sebagai tempat pelampiasan
sebagai tempat membuang kenangan bergumam-gumam tentang bak mandi yang isinya
Nyonya biarkan meluber begitu saja. Nyonya mendengar bisikan-bisikan dari
pendar lampu kamarnya.Tidak menyadari bahwa kakinya sudah setengah tenggelam
terkena air yang tiada henti mengalir dari dalam bak mandi itu.
Nyonya terus mengusap piguranya dan tidak lekas menutup laci itu. Dalam
hatinya merasa tidak mampu, bahkan kenangan itu rasanya semakin menguat
semenjak ia berusaha menjauhkan nya. Sejak ia menurunkan pigura-pigura itu dari
tempatnya, kenangan itu justru semakin lekat pada bayangan nya. Di ruang
tamunya terasa kosong, pigura itu sudah tidak ada disana, namun di matanya seperti
masih saja menempel benda itu ditempatnya. Ternyata kenangan jauh lebih
mengerikan dari yang ia duga.

Anak laki-laki yang ditunggu-tunggu Nyonya itu masih belum menyadari
bahwa Nyonya menunggunya, menanti kehadiran jejaknya diteras rumah. Anak
laki-laki yang menggores kenangan untuk Nyonya itu justru hanya menyadari bahwa
wanita lain telah membuatkan nya sebuah kenangan, menciptakan sebuah pohon
hijau rindang untuknya, dimana ia ada dibawahnya dan menanti satu-persatu
dedaunan gugur. Susah payah ia mengeruk tanah sedalam-dalamnya dan mengubur
wanita itu hidup-hidup, seolah wanita itu adalah bangkai tikus yang membusuk. Ia
mengeruk tanah dengan seluruh tenaga hingga jemarinya menghitam. Pohon yang
mengering di atas kepalanya sudah semakin mengering, tidak tersisa daun
satupun. Anak laki-laki yang ditunggu-tunggu Nyonya itu masih belum menyadari
juga perihal Nyonya yang menghabiskan sisa masa hidup dengan mengusap pigura
berisi gambar wajahnya yang tersenyum bahagia.Ia hanya tau bahwa hatinya
patah,semakin patah ketika mengenang wanita yang aromanya tubuhnya tertinggal
didalam bak mandinya.Hingga yang ia lakukan adalah tenggelam dalam kenangan
yang ia anggap akan menghabisi seluruh sisa masa hidupnya.Mengeruk dalam-dalam
tanah yang ada dibawah pohon itu untuk mengubur sedalam mungkin kenangan nya
dan,masih belum menyadari juga bahwa walau tubuh wanita itu terbukur sedalam
mungkin,tetpi kenangan tidak akan pernah ikut terkubur disana.
Mereka beduamungkin sama seperti pagi dan malam yang bersekutu untuk
menghadirkan kenangan. Lewat indra, visualisasi, suara dan sentuhan,bersama rasa
yang bahagia,marah,dan sedih.Sempurna kenangan itu datang.Kenangan itu datang
dengan undangan yang tidak disengaja,dan setelah itu,tidak mau pergi.Sepanjang
masa hidup,maka kenangan itu akan semakin menjadi,semakin menumpuk dan tidak
akan ada habisnya.Tetapi,sayang nya selalu ada ruang untuk kenangan itu semakin
tumbuh besar.Dan,sayang nya tidak pernah ada yang mampu menemukan bagaimana
cara kenangan itu dimusnahkan.
Dipagi ketika pagi mengantarkan jejak itu diteras rumahnya,Nyonya tidak
bisa memilih akan menangis sedih/bahagia.Sedih karena kenangan nya seketika
menepi.Bahagia karena kenangan nya berada di depan mata.Anak laki-laki yang
Nyonya ceritakan pada dinding-dinding dan debu yang berpendar dilampu kamar nya
menjejakkan kaki di teras rumah sang anak kemudian meminta Nyonya untuk
menceritakan sebab Ayah dan sayap emasnya pergi.Namun Nyonya hanya diam saja
satu-satunya yang mengerti hanyalah bekas pigura yang pernah tergantung diruang
tamunya dan debu-debu yang masih setia menempel disana.Dan satu-satunya tangan
yang bisa menghentikan laju air adalah miliknya.Bak mandi itu sudah penuh
hinggar airnya meluber keseluruh ruangan,sama sepeti kenangan yang memenuhi
seluruh ruang hidup mereka. Sama seperti kenangan yang menyimpan rapat-rapat
rahasia setiap insan.Dan,karena ialah penjaga rahasia paling sempurna,setiap
insan akan merasa diancam oleh masa lalunya,masa yang sedang dilaluinya dan
masa depan yang menantinya.Sama seperti kenangan yang sangat bungkam pada
setiap apa yang dilalui,setiap insan akan merasa diancam oleh apa yang ia lalui
sendiri tanpa orang lain dan,cara terbaik menyikapi ancaman pada kenangan
adalah dengan menerima,menyaksikan dan berlapang dad a bahwa kenangan itu akan
ada ditempat nya pada seluruh sisa hidupmu.
Itu tadi adalah beberapa ulasan tekait Teater Tikar yang pada saat itu
di pentaskan di Universitas PGRI Semarang tepatnya di Gedung Pusat Lantai 7. Dari ulasan di atas
dapat di simpulkan bahwa seorang wanita yang di tinggal oleh suaminya pergi
bersama “sayap emas nya” , kemudian ditinggalkan oleh anak nya juga pergi
bersama dengan wanita pilihan hatinya, tetapi sang anak di sia-siakan oleh
kekasihnya itu..
Pesan yang dapat di ambil dari
ulasan Teater Tikar itu adalah hal yang bisa membuat gagal adalah masih
berpikir tentang masa lalu yang belum tentu baik, maka dari itu kita harus bisa
memposisikan kenangan seobjektif mungkin supaya tidak menghambat masa depan
kita.. jadi mari kita ancam kenangan masalalu itu, dan cara terbaik menghadapi
kenangan yang mengancam adalah dengan membiarkannya datang pergi sesukanya,
karena kenangan tidak akan bisa di hilangkan ibarat air yang ada di bak mandi,
walaupun selalu di ganti akan tetap ada, begitu juga dengan kenangan yang
selalu ada dan menyertai kita kapan dan di mana pun
Semangat move on kawan...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar