Jumat, 23 Desember 2016



Budaya Jawa Patut untuk Dilestarikan

Saya setuju dengan opini dari Ari Kristianawati, yang dimuat oleh Tribun Jateng pada hari Jumat, 23 September 2015 dengan judul “Peter Van Lith dan Budaya Jawa”.  Di dalam opini tersebut disebutkan bahwa Peter Van Lith dianggap menjadikan kebudayaan jawa sebagai sosialreligiusitas yang memiliki etika kemanusiaan dan berpihak kepada kaum papa. Budaya jawa yang terdidi dari tradisi, budaya, dan bahasa secara keseluruhan memang memiliki nilai solidaritas tersendiri. Akan tetapi, budaya jawa yang didalamnya juga terdapat berbagai macam kompenen seperti bahasa, nyanyian tradisional, rumah adat, baju adat dan lain sebagainya, kini keberadaanya sudah jarang ditemui. Kita sebagai generasi muda seharusnya bangga akan berbagai macam kebudayaan dan melestarikannya, bukan malah bangga meniru kebiasaan orang dari negara lain. Saat ini kebanyakan orang tua lebih bangga mengajarkan anaknya bahasa asing daripada bahasa daerah, misalnya saja bahasa jawa. Padahal orang asing seperti Peter Van Lith saja mendapatkan penghargaan atas jasanya dalam budaya jawa, seharusnya kita sebagai pemilik budaya jawa itu sendiri bisa lebih mengembangkan dan melestarikan budaya jawa tersebut.
Kita dapat memulai melestarikan budaya jawa dari diri sendiri. Misalnya saja mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa yang mengandung unsur budaya jawa. Dalam hal keluarga sebaiknya orang tua tidak meninggalkan anaknya untuk mengajarkan bahasa ibunya yaitu bahasa jawa. Padahal sebenarya didalam bahasa jawa mengandung nilai-nilai kesopanan yang tinggi, misalnya saja ada adab berbicara dengan orang yang lebih tua dan dengan sesama. Hal ini juga dapat menumbuhkan karakter saling menghargai dan menghormati sehingga menciptakan generasi yang berkarakter. Belajar bahasa asing memang penting untuk bersaing di dunia internasional, tetapi dengan belajar bahasa asing juga jangan sampai melupakan bahasa ibu kita sendiri yaitu bahasa jawa.
Selain bahasa, di dalam budaya jawa juga terdapat nyanyian trasisional seperti gundul-gundul pacul, suwe ora jamu, lir ilir, siji-siji rojo pati dan lain sebagainya. Nyanyian tradisional tersebut juga harus di lestarikan. Kebanyakan anak saat ini lebih menyukai lagu-lagu yang tidak sesuai dengan usia mereka. Hal ini dapat disebabkan karena mereka tidak sering mendengarkannya. Padahal memperdengarkan anak dengan lagu yang tdak sesuai dengan usia mereka dapat membuat anak menjadi berpriaku kasar. Nah, tugas kita adalah kembali memperdengarkan lagu-lagu anak atau lagu tradisional ini terutama kepada anak-anak. Di dalam lagu tradisional ini juga terdapat berbagai macam pesan yang positif, tidak hanya untuk anak tetapi juga untuk semua khlayak.
Tidak hanya yang belum terlaksana saja dalam melestarikan budaya jawa, masyarakat kita juga sudah beberapa yang melestarikan budaya jawa. Seperti halnya memperingati Hari Kartini pada tanggal 21 April, biasanya di sekolah-sekolah untuk memperingati Hari Kartini mewajibkan siswanya untuk mengenakan pakaian adat dan melakukan berbagai macam lomba seperti pemilihan purti kartini atau fashion show, lomba memasak, menghias tumpeng, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan perempuan. Nah,dari kegiatan tersebut dapat meningkatkan rasa bangga dan cinta terhadap budaya Indonesia, salah satunya budaya jawa.
Sari Otavia Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Univrsitas PGRI Semarang


Sastra yang Mampu Membius Khalayak
Sari Otavia(PBSI 3D/15410172)
Saya tertarik untuk  menanggapi esai dari Aulia Rahmah Oktafiani mengenai pementasan teater Jaka Tarub dan Monolog Balada Sumarah yang dipentaskan pada tanggal 4 Oktober 2016 yang diadakan oleh Teater Gema di Gedung Pusat Lantai 7 Universitas PGRI Semarang. Aulia menggunakan judul “Apresiasi-apresiasi di Balik Pementasan Lawak Teater dan Sebuah Monolog di dalam esai tersebut. Sesuai judulnya pemetasan teater tersebut memang  layak untuk diapresiasi. Di dalam esai tersebut, Aulia menceritakan secara jelas adegan-adegan yang dilakukan oleh para pemain yang notabennya masih seorang mahasiswa. Saat saya membaca esai dari Aulia, saya ingin kembali menyaksikan pertunjukan teater dan monolog tersebut.
            Esai dari Aulia memang menceritakan pertunjukan  Teater Jaka Tarub dan Monoolog Balada Sumaranh dengan sangat jelas dan terperinci. Pada bagian pertama dimulai denngan menceitakan kisah seorang ayah yang bermimpi buruk tentang ankanya dan belum siap untuk kehilangan anaknnya. Di lain sesi, Aulia juga menceritakan tentang perjalanan Jaka Tarub sebelum menikah dengan Nawang Wulan. Jaka Tarub pernah bermimpi menikahi seorang bidadari, dan mimpi tersebut diceritakan oleh temannya. Temannya yang kaget tidak mempercayai mimpi Jaka Tarub tersebut dan mengaanggapnya hanya menghayal. Tetapi di kemudian hari mimpi tersebut memang benar-benar terjadi. Ketika Jaka Tarub sedang berburu di hutan ia melihat para bidadari yang sedang mandi. Adegan bidadari yang turun  dari khayangan dan mandi di sungai itu merupakan adegan yang bagi saya sendiri  sangat menarik, karena penataan panggung dengan membuat tangga berwarna hitam sebagai jalan para bidadari turun dari khayangan memberikan efek seperti bidadari tersebut sedang terbang. Sunggunh diperlukan kreativitas untuk membuat dan memainkan sebuah teater. Tidak hanya itu, adegan mandi di sungai juga terkesan kreatif, karena menggunakan plastik bening atau transparan sebagai pengganti air.
            Setelah Jaka Tarub melihat para bidadari yang sedang mandi dan meninggalkan pakaiannya, Jaka kemudian mengambil salah satu selendang dari bidadari-bidadari tersebut. Ternyata, selendang  yang diambil oleh Jaka Tarub adalah selendang dari Nawang Wulan.  Nawang Wulan kebingungan mencar di mana selendangnya tersebut dan membuat saembara, apabila ada seseorang yang memberinya pakaian atau menemukan selandang miliknnya, apabila perempuan akan dijadikan saudara dan apabila laki-laki akan dijadikannya suami. Mendengar itu, Jaka pun memberikan baju milik kepada Nawang Wulan dan akhirnya mereka pun menikah dan mempunyai seorang anak bernama Nawang Sih.
            Disuatu hari Nawang Wulan sedang memasak, tetapi karena ingin mencucui baju, Nawang Wulan pun berpesan kepada suaminya untuk menjaga anaknya dan  tidak membuka masakannya. Karena penasaran apa yang sedang dimasak istrinya, Jaka pun mengintip dan menanyakan kepada istrinya apa yang ia  lihat. Mendengar cerita Jaka Nawang Wulan kecewa sekaligus terkejut karena suaminya melanggar janji. Di sisi lain, Nawang Wulan   menemukan selendang miliknya berada di rumah Jaka Tarub, melihat itu semua Nawang Wulan terkejut dan langsung menanyakan kepada Jaka. Semua kejadian hari ini membuat Nawang benar-benar kecewa dengan Jaka Tarub dan memutuskan untuk kembali ke kayangan. Di sela-sela pertunjukan Teater Jaka Tarub, juga diselingi lawakan yang lain, yaitu lawakan Tomo dan Topo yang membicarakan tentang Pemilihan Umum yang sedang marak terjadi di Indonesia. Dalam lawakan Tomo dan Topo mengandung berbagai macam pesan moral,terutama untuk Pemlihan Umum dan sikap seorang pemimpin dan masyarakat di Indonesia. Seperti seorang pemimpin dan masyarakat  itu tidak hanya memperhatikan apa yang menjadi haknya tetapi ugaa harus memperhatikan apa kewajiban yang harus dilakukannya.
            Setelah pementsan Teater Jaka Tarub selesai dilanjutkan dengan pementasan Monolog Balada Sumarah yang sangat berkesan bagi para penontonnya. Bagaimana tidak, monolog yang memang dimainkan oleh satu orang dan  memerankan berbagai macam karakter mampu  membius dan membuat penonton takjub dengan perubahan ekspresinya. Pantas saja apabila Monolog Balada Sumarah ini mampu menjuarai ajang perlombaan PEKSIMIDA dan mewakili Jawa Tengah di tingkat nasional pada PEKSIMINAS. Monolog Balada Sumarah menceritakan seorang anak yang orang tuanya dituduh menjadi anggota PKI dan terus mendapat ketidakadilan di negri sendiri. Akhirnya Sumarah pun merantau ke Negri Jiran berharap dapat memperoleh hidup yang layak di  sana dengan menjadi TKW. Tetapi, kenyataan di negri Jiran jauh dari harapan Sumarah, di sana Sumarah diperlakukan tidak adil, disiksa, bahkan Sumrah juga menapatkan pelecehan seksual yang dilakukan oluh majukannya sendiri. Sekian lama Sumarah bungkam tentang perilku majikannnya itu, akhirnya Sumarah pun brontak dan menghabisi nyawa majkannnya. Tak perduli bagaimana dan seberat apa dia akan dihukum. Suamarah juga ingin merasakan bagaimana menjadi seorang yang bersalah walaupun sebenarnya dia jugatidak bersalah. Dia tidak yakin hkum di negaranya akan membelanya, karena sumarah juga pernah memperoleh ketidak adilan di negaranya.Ternyata  predikat NEM tertinggi pun tidak dapat menjamin pekerjaan seseorang.  Sungguh sangat malang nasib seorang anak dari korban fitnah menjadi anak dari anggota PKI.
            Cerita dari Monolog Balada Sumarah saja sudah menarik dan berasal dari fakta yang tejadi di Indonesia, apalagi Pementasan Monolog Balada Sumarah juga tersusun secara rapi dan kreatif pembawaan sang pemain juga sangat totalitas, selain itu, Banyak TKW maupun TKI yang memperoeh ketidakadilan di negara tetangga dan pemerintah Indonesia juga tidak banyak yang mengetahui serta melakukan tindakan yang lebih lanjut. Semoga pemerintah Indonesia mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang memadai dan terjamin keamanannya, agar tidak banyak masyarakat Indonesia yang mencari pekerjaan di negara lain.
Sari Otavia, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas PGRI Semarang


Teater yang Menggema
Oleh : Sari Otavia(15410172)
          Pertunjukan seni teater merupakan ajang unjuk bermain peran. Banyak aktor maupun aktris yang dulunya menekuni seni teater dan sudah berhasil dalam bidangnya. Bakat dapat dilatih mulai dari usia dini. Saat ini di berbagai daerah, sekolah maupun perguruan tinggi sudah banyak kelompok atau perkumpulan teater. Salah satunya Teater Gema di Universitas PGRI Semarang. Kemarin, pada tanggal 4 Oktober Teater Gema baru saja mengadakan sebuah pentas pertunjukan teater yang berjudul Pentas Jaka Tarub dan Pentas Monolog Balada Sumarah.
 Pentas Jaka Tarub menceritakan tentang kisah seorang pemuda yang bernama Jaka Tarub dan seorang bidadari yang bernama Nawang Wulan. Mereka berdua menikah karena Jaka Tarub mengambil selendang milik Nawang Wulan tanpa sepengetahuannya. Kemudian, Nawang Wulan membuat saembara “barang siapa yang menemukan atau memberikan saya baju, apabila perempuan akan saya jadikan saudara dan apabila laki-laki maka akan dijadikan suami”. Mendengar itu, Jaka Tarub pun senang karena mimpinya menikah dengan bidadari akan segera terwujud. Akhirnya mereka pun menikah dan Nawang Wulan melahirkan anak perempuan yang bernama Nawang Sih. Tetapi setelah Nawang Sih lahir banyak perdebatan diantara mereka. Pada suatu ketika saat Nawang Wulan akan mencuci pakaian di sungai, dia menitipkan anaknya kepada Jaka Tarub dan berpesan supaya tidak membuka panci yang di dalamnya sedang dimasak nasi. Karena penasaran, Jaka Tarub pun mengintipnya dan setelah istrinya, Nawang Wulan kembali ke rumah, Jaka Tarub menanyakan apa yang ia lihat di dalam panci tersebut. Mendengar pertanyaan suaminya Nawang Wulan pun marah, selain karena suaminya tidak menepati jaanji untuk tidak membuka panci itu, kesaktian Nawang Wulan sebagai seorang bidadari pun menjadi hilang karena ulah suaminya itu. Beberapa saat kemudian Nawang Wulan juga menemukan selendang miliknya yang berada di tempat penyimpanan padi. Melihat itu semua, Nawang Wulan pun terkejut dan benar-benar marah dengan Jaka Tarub. Kemarahan dan kekecewaan  Nawang Wulan tidak bisa lagi dihentikan. Akhirnya Nawang Wulan kembali ke kayangan dan meninggalkan Jaka Tarub. Banyak pesan yang dapat diambil dalam setiap pertunjukan teater salah satunya di pertunjukan Jaka Tarub ini. Pertunjukan yang baik dan bagus dari sebuah pertunjukan teater adalah dari bagaimana cara mengemas pertunjukan itu, pesan moral yang disampaikan, tata panggung, lighting, dan faktor pendukung lainnya.
Selain Pentas Jaka Tarub, Teater Gema juga menampilkan Pentas Monolog Balada Sumarah yang telah berhasil memenangkan lomba PEKSIMIDA tingkat Jawa Tengah dan mewakili Jawa Tengah di tingkat nasional. Monolog ini menceritakan kisah  tentang seorang anak bernama Sumarah yang orang tuanya dituduh menjadi anggota PKI dan kemudian karena dikucilkan oleh semua orang, dia memutuskan untuk menjadi TKW di Arab. Dengan harapan dapat mengubah hidupnya di sana, Sumarah sangat bersemangat ketika akan berangkat menuju Arab, tetapi harapannya pun sirna, di sana ia mendapat perlakuan tidak senonoh oleh majikannya. Bahkan dia sering di siksa dan pernah mendapatkan pelecehan seksual oleh majikannya itu. Setelah sekian lama Sumarah bungkam mengenai prilaku majikannya itu, akhirnya ia pun membunuh sang majikan. Walaupun ia tau kalau akhirnya dia akan dipenjara.
Singkat cerita dari Pentas Monolog Balada Sumarah ini seperti kehidupan nyata yang sering terjadi di Indonesia. Banyak Tenaga Kerja Wanita yang bekerja di luar negri mendapatkan perlakuan yang tidak adil layaknya manusia. Saking tidak tahannya dengan berbagai macam prilaku majikan, TKW pun terkadang membunuh sang majukan. Tenaga kerja indonesia yang baru  sekali berbuat kesalahan langsung dihakimi dengan hukuman yang seberat-beratnya, bahkan ada yang dihukum mati dan jenazahnya tidak dikembalikan ke tanah air. Padahal itu tidak sepenuhnya salah tenaga kerja indonesia, terlebih majikan mereka lebih banyak melakukan tindak kekerasan, asusila, maupun pelanggaran HAM lainnya yang lebih berat dibandikan dengan tenaga kerja kita. Ironisnya, pemerintah di Indonesia tidak dapat melakukan apa-apa melihat semuanya terjadi. Semoga Tenaga Kerja Indonesia maupun Tenaga Kerja Wanita dapat pemperoleh keadilan yang sebenarnya.
Setiap pertunjukan drama ataupun teater yang disajikan secara runtut dan apik selalu berkesan bagi penikmatnya. Terlebih jika penampilan sebuah teater berbeda dari yang biasanya. Dalam memerankan seni berteater banyak ketrampilan yang harus dikuasai oleh pemainnya, misalnya saja olah suara haruslah lantang, jelas dan berkarakter. Sebelum melaksanakan sebuah pertunjukan yang besar, para pemain rutin melakukan latihan. Tidak hanya latihan naskah dan akting, melainkan latihan fisik seperti lari, push up, sit up, back up,  dan lain sebagainya untuk mendukung serta melatih kemampuan seni bermain peran ini. Tidak ada salahnya mencoba  berlatih bermain peran, selain melatih kemampuan berbahasa, berlatih bermain peran juga dapat membuat tingkat pecaya diri seseorang meningkat karena seringnya tampil di depan umum. Selain itu seni bermain peran juga bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan intelektual, imajinatif, ekspresi, kepekaan kreatif, ketrampilan, dan mengapresiasi terhadap hasil karya seni dan ketrampilan. Disamping itu terdapat manfaat yang sangat penting bagi anak dalam belajar seni secara umum, yaitu membantu pertumbuhan mental anak. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi pembacanya dan lebih banyak lagi calon-calon penerus bangsa yang memanfaatkan waktu luangnya dengan berbagai macam kegiatan-kegiatan yang bermaanfaat.


Indahnya Sastra di Indonesia
Sastra merupakan hal yang sudah tidak asing lagi bagi mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, terutama progam studi Pendidikan Bahasa dan Sasta Indonesia. Kemarin, tepatnya pada hari Rabu, 19 Oktober 2016 Universitas PGRI Semarang mengadakan sebuah acara yang berjudul UPGRIS Bersatra. UPGRIS Bersastra merupakan salah satu dari serangkaian kegiatan Bulan Bahasa yang rutin dilaksanakan setiap bulan Oktober di Universitas PGRI Semarang ini. Selain UPGRIS Bersastra, biasanya UPGRIS terutama FPBS selalu mengadakan berbagai macam perlomban seperti lomba baca puisi, lomba debat tiga bahasa, lomba drama komedi dan lain sebagainya. Peserta lomba juga tidak hanya mahasiswa saja tetapi siswa SMA maupun SMP sederajat di Jawa Tengah. Tahun lalu, puncak dari kegiatan Bulan Bahasa ini pada tanggal 28 Oktober yang bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Puncaknya selalu diperingati semeriah mungkin, kalau tahun lalu diadakan kirab budaya, tahun ini memeriahkannya dengan diadakannya lomba tari kreasi antarmahasiswa. Berhubung FPBSitu sendiri merupakan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, maka mahasiswanya tidak hanya dipersiapkan untuk menjadi seorang pendidik yang profesional tetapi juga dituntut untuk mempunyai ketrampilan berbahasa dan mempunyai seni yang dapat dimanfaatkan kedapannya.                                                                                             
 Di dalam acara UPGRIS Bersastra terdapat 3 kritikus, 3 buku, 3 pembaca, dan 1 pengarang. Hal yang dibahas dalam acara ini adalah membedah tiga buku karya Triyanto Triwikromo yaitu Sesat Pikir Para Binatang, Bersepeda ke Neraka, dan Selir Musim Panas. Acara UPGRIS bersastra ini dipandu oleh salah seorang sastrawan yang menjadi dosen di Universitas PGRI Semarang ini, beliau adalah Dr. Harjito, M.Hum. Sebelum dan pada saat acara dimulai, terdapat hiburan atau selingan dari band yang bernama Biscuittime yang selalu memainkan musikalisasi puisi. Biscuittime ini dulunya juga merupakan mahasiswa dari UPGRIS, tepatnya Pendidikan Bahasa Inggris. Sungguh luar biasa UPGRIS mampu mencetak generasi muda yang masih peduli dengan sastra, karena kebanyakan band baru yang saat ini muncul adalah band  yang kurang memperhatikan pesan moral yang disampaikan dalam lagu-lagunya. Kali ini Biscuittime hadir dengan lagu yang penuh sastra dan tentunya pesan moral yang disampaikan juga dapat membentuk karakter anak bangsa yang mendengarnya.
Selain Biscuittime Rektor UPGRIS, Pak Muhdi dan Wakil Rektor Ibu Sri Suciati juga membacakan puisi dengan sangat menarik, terkadang juga diselingi dengan alat musik, lain halnya dengan Ibu Sri Suciati yang membaca puisi dan juga nembang jawa yang suaranya sangat menggetarkan hati.

Sabtu, 17 Desember 2016



Keberadaan Ujian Nasional
Saya setuju dengan pendapat Setia Naka Andrian mengenai nasib Ujian Nasional. Memang, dari tahun ketahun, Ujian Nasional menjadi momok tersendiri bagi setiap orang, tidak hanya siswa yang menjalankannya, tetapi orang tua yang khawatir akan nasib anaknya. Bayangkan saja, hasil belajar selama tiga tahun untuk SMP/SMA, dan enam tahun untuk SD ditentukan hanya dengan hitungan hari. Selain itu, sebelum hari Ujian Nasional tiba, siswa sering diforsir dengan berbagai macam mata pelajaran yang diujikan di UN. Dalam kondisi ini siswa yang tidak kuat pasti akan merasa sters dan terbebani. Hal ini menuimbulkan berbagai macam pro dan kontra dari berbagai pihak mengenai akan diadakannya Ujian Nasional atau tidak. Ujian Nasional memang bertujuan untuk mengukur kemampuan siswa selama bersekolah dan menjadikan ajang untuk berkompetisi. Akan tetapi, disisi lain Ujian Nasional menjadi bebaan atau momok tersendiri. Kalau menurut pendapat saya, Ujian Nasional tetap harus dilaksanakan, tetapi tidak menentukan kelulusan. UN dapat menjadi ajang untuk bersikap jujur dan mandiri, seperti yang diterapkan pada K13 yang menekankan pada pendidikan karakter. Tetai sebelum dilaksanakannya UN, siswa diberikan arahan supaya tidak terlalu menjadikan UN sebagai beban. Pemforsiran mata pelajaran juga dikurangi dan hanya membahas inti dan latihan soal dari mata pelajaran yang diujukan. Semoga apa yang menjadi keputusan pemerintah mengenai Ujian Nasional dapat diterima oleh kalangan. Sari Otavia (PBSI 3D)