Keberadaan Ujian Nasional
Saya setuju dengan
pendapat Setia Naka Andrian mengenai nasib Ujian Nasional. Memang, dari tahun
ketahun, Ujian Nasional menjadi momok tersendiri bagi setiap orang, tidak hanya
siswa yang menjalankannya, tetapi orang tua yang khawatir akan nasib anaknya. Bayangkan
saja, hasil belajar selama tiga tahun untuk SMP/SMA, dan enam tahun untuk SD
ditentukan hanya dengan hitungan hari. Selain itu, sebelum hari Ujian Nasional
tiba, siswa sering diforsir dengan berbagai macam mata pelajaran yang diujikan
di UN. Dalam kondisi ini siswa yang tidak kuat pasti akan merasa sters dan
terbebani. Hal ini menuimbulkan berbagai macam pro dan kontra dari berbagai
pihak mengenai akan diadakannya Ujian Nasional atau tidak. Ujian Nasional
memang bertujuan untuk mengukur kemampuan siswa selama bersekolah dan
menjadikan ajang untuk berkompetisi. Akan tetapi, disisi lain Ujian Nasional
menjadi bebaan atau momok tersendiri. Kalau menurut pendapat saya, Ujian
Nasional tetap harus dilaksanakan, tetapi tidak menentukan kelulusan. UN dapat menjadi
ajang untuk bersikap jujur dan mandiri, seperti yang diterapkan pada K13 yang
menekankan pada pendidikan karakter. Tetai sebelum dilaksanakannya UN, siswa
diberikan arahan supaya tidak terlalu menjadikan UN sebagai beban. Pemforsiran
mata pelajaran juga dikurangi dan hanya membahas inti dan latihan soal dari
mata pelajaran yang diujukan. Semoga apa yang menjadi keputusan pemerintah
mengenai Ujian Nasional dapat diterima oleh kalangan. Sari Otavia (PBSI 3D)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar