Budaya Jawa Patut untuk Dilestarikan
Saya setuju dengan opini dari Ari Kristianawati, yang
dimuat oleh Tribun Jateng pada hari Jumat, 23 September 2015 dengan
judul “Peter Van Lith dan Budaya Jawa”. Di dalam opini tersebut disebutkan bahwa Peter
Van Lith dianggap menjadikan kebudayaan jawa sebagai sosialreligiusitas yang
memiliki etika kemanusiaan dan berpihak kepada kaum papa. Budaya jawa yang
terdidi dari tradisi, budaya, dan bahasa secara keseluruhan memang memiliki nilai
solidaritas tersendiri. Akan tetapi, budaya jawa yang didalamnya juga terdapat
berbagai macam kompenen seperti bahasa, nyanyian tradisional, rumah adat, baju
adat dan lain sebagainya, kini keberadaanya sudah jarang ditemui. Kita sebagai
generasi muda seharusnya bangga akan berbagai macam kebudayaan dan
melestarikannya, bukan malah bangga meniru kebiasaan orang dari negara lain.
Saat ini kebanyakan orang tua lebih bangga mengajarkan anaknya bahasa asing
daripada bahasa daerah, misalnya saja bahasa jawa. Padahal orang asing seperti
Peter Van Lith saja mendapatkan penghargaan atas jasanya dalam budaya jawa,
seharusnya kita sebagai pemilik budaya jawa itu sendiri bisa lebih
mengembangkan dan melestarikan budaya jawa tersebut.
Kita dapat memulai melestarikan budaya jawa dari diri
sendiri. Misalnya saja mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa yang mengandung unsur
budaya jawa. Dalam hal keluarga sebaiknya orang tua tidak meninggalkan anaknya
untuk mengajarkan bahasa ibunya yaitu bahasa jawa. Padahal sebenarya didalam
bahasa jawa mengandung nilai-nilai kesopanan yang tinggi, misalnya saja ada
adab berbicara dengan orang yang lebih tua dan dengan sesama. Hal ini juga
dapat menumbuhkan karakter saling menghargai dan menghormati sehingga
menciptakan generasi yang berkarakter. Belajar bahasa asing memang penting
untuk bersaing di dunia internasional, tetapi dengan belajar bahasa asing juga
jangan sampai melupakan bahasa ibu kita sendiri yaitu bahasa jawa.
Selain bahasa, di dalam budaya jawa juga terdapat
nyanyian trasisional seperti gundul-gundul pacul, suwe ora jamu, lir ilir,
siji-siji rojo pati dan lain sebagainya. Nyanyian tradisional tersebut juga
harus di lestarikan. Kebanyakan anak saat ini lebih menyukai lagu-lagu yang
tidak sesuai dengan usia mereka. Hal ini dapat disebabkan karena mereka tidak
sering mendengarkannya. Padahal memperdengarkan anak dengan lagu yang tdak
sesuai dengan usia mereka dapat membuat anak menjadi berpriaku kasar. Nah,
tugas kita adalah kembali memperdengarkan lagu-lagu anak atau lagu tradisional
ini terutama kepada anak-anak. Di dalam lagu tradisional ini juga terdapat
berbagai macam pesan yang positif, tidak hanya untuk anak tetapi juga untuk
semua khlayak.
Tidak hanya yang belum terlaksana saja dalam melestarikan
budaya jawa, masyarakat kita juga sudah beberapa yang melestarikan budaya jawa.
Seperti halnya memperingati Hari Kartini pada tanggal 21 April, biasanya di
sekolah-sekolah untuk memperingati Hari Kartini mewajibkan siswanya untuk
mengenakan pakaian adat dan melakukan berbagai macam lomba seperti pemilihan
purti kartini atau fashion show, lomba memasak, menghias tumpeng, dan lain
sebagainya yang berkaitan dengan perempuan. Nah,dari kegiatan tersebut dapat
meningkatkan rasa bangga dan cinta terhadap budaya Indonesia, salah satunya
budaya jawa.
Sari Otavia Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Univrsitas
PGRI Semarang