Minggu, 23 September 2018

Sari Otavia Dara Asal Kendal



Sari Otavia Dara Asal Kendal
Sari Otavia/15410172
Berdasarkan informasi dari orang tua dan kerabat, Saya lahir di Kendal pada hari Senin, 27 Oktober 1997. Semasa kecil,  Saya hidup seperti kebanyakan anak-anak lain yang memiliki kedua orang tua lengkap. Saya dilahirkan dari rahim Ibu Suyami, dan Bapak Juri. Mereka sangat menyayangi Saya. Sebelum memasuki bangku sekolah Taman Kanak-kanak, Saya menghabiskan waktu bermain di lingkungan rumah orangtua saya yang saat itu tinggal di Kedungpane, Ngalian. Teman kecil saya waktu itu adalah Nungki, Erni, Tittan, Nova, dan masih banyak lagi. Setelah usia Saya 4 tahun lebih, Saya memasuki bangku  sekolah Taman Kanak-kanak di TK Pertiwi XI selama 6 bulan. Saya mempunyai adik laki-laki pada saat Saya duduk di bangku Taman  Kanak-kanak. Adik Saya lahir pada hari Senin, 27 Mei 2002 yang bernama Fery Aryanto. Ketika adik Saya lahir, kedua orangtua Saya memutuskan untuk pindah ke Kendal tempat orangtua ibu Saya, sehingga Saya melanjutkan sekolah di TK Darma Wanita Desa Puguh. Di TK Darma Wanita, teman yang pertama Saya kenal adalah Tuti, karena Tuti tinggal di sebelah rumah nenek Saya. Selain Tuti, Saya juga mengenal Novia, Laras, Via, Eva, Nila, Ida, dan masih banyak lagi. Mereka selalu bersama- sama duduk di bangku sekolah sampai di Sekolah Menengah Pertama.
Ketika Saya pindah dari TK Pertiwi XI ke TK Darma Wanita, Saya langsung naik ke TK B, setelah 6 bulan, Saya lulus TK dan melanjutkan sekolah di SD Negeri Puguh yang letaknya berhadapan dengan TK Darma Wanita. Semasa SD Saya mengikuti pembelaaran dengan antusias dan menghasilkan prestasi yang lumayan dengan selalu masuk 10 besar. Selin itu, di SD Puguh, Saya juga pernah mengikuti lomba Pesta Siaga tingkat Kecamatan Boja. Setelah 6 tahun sekolah di SD Puguh, saya lulus dan melanjutkan sekolah di SMP Negeri 3 Boja yang letaknya juga tidak jauh dari SD Puguh, karena letak SMP Negeri 3 Boja masih di Desa Puguh. Di SMP Negeri 3 Boja, Saya juga mengikiti kegiatan Pembelajaran dengan antusisas. Selain itu, saat SMP Saya mengikuti ekstrakurikuler Paskibra dan mengibarkan bendera Merah Putih pada saat hari Proklamasi Kemerdekaan. Suatu kebanggaan tersendiri bisa mengibarkan Sang Saka Merah Putih. Tiga tahun di SMP Negeri 3 Boja, saya melanjutkan pendidikan di SMK Negeri 3 Kendal. Letak SMK Negeri 3 Kendal dengan rumah Saya lumayan jauh, tapi masih terletak satu kecamatan. Oleh sebab itu, Saya mulai mengendarai sepeda motor untuk pulang-pergi ke sekolah. Jarak yang ditempuh dari rumah ke sekolah sekitar 25 menit. Saya memutuskan untuk melanutkan sekolah di SMK, karena Saya berfikir, di SMK selain bisa kuliah juga bisa bekerja karena sudah dibekali dengan ketrammpilan kejuaruan yang dipilih. Saya memilih progam kejuruan Teknik Komputer Jaringan, karena dulu saat SMP saya mengagumi guru TIK yaitu Ibu Mudzaifah, dan menurut saya ketrampilan komputer juga merupakan suatu hal yang penting sebagai bekal di dunia kerja kelak. Selain itu, Saya memilih SMK Negeri 3 Kendal juga karena di sana terdapat eksra Pskibra yang sudah dikenal bagus, kerjasama dengan dunia industri juga sudah lumayan luas, dan SMK Negeri 3 Kendal merupakan SMK favorit di Kendal.
Tiga tahun di SMK Negeri 3 Kendal, Saya mengikuti pembelajaran dengn antusis, karena saat itu banyak hal yang baru saja Saya ketahui saat  itu, baik di bidang akademik, kejuruan maupun ekstra. Di SMK Negeri 3 Kendal, Saya pernah mengikuti ekstrakurikuler Paskibra, Pramuka, Tari, dan ­Go Green ­atau gerakan penghijauan. Tetapi, yang benar-benar Saya tekuni hanya Paskibra dan Pramuka. Tari bagi Saya hanya sebagi hobi yang pernah ditampilkan saat acara-acara tertentu di SMK seperti acara Wisuda, Penyambutan Bupati, Pembukaan event Job Fair  dan lain sebagainya. Awal Saya mengikuti ekstra Pramuka adalah ketika Saya berhasil lolos seleksi lomba COMPAS yang diadakan oleh POlINES, dan mulai saat itu, Saya selalu mengikuti event-event perlombaan Pramuka. Di Pramuka juga saya mulai belajar berorganisasi dan bersosialisasi dengan baik. Setelah lulus dari SMK Negeri 3 Kendal, berdasarkan arahan dari keluarga dan guru, Saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di tingkat Universitas, yaitu di Universitas PGRI Semarang.
Di Universitas PGRI Semarang, Saya memilih Progam Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Menurut Saya, bahasa dan sastra Indonesia itu unik dan menarik untuk dipelajari. Selama dua semester saya benar-benar menikmati masa-masa perkiliahan seorang mahasiswa PBSI dan bisnis kecil-kecilan saya saat itu, yaitu jilbab dan pulsa. Sampai di akhir semester dua, saya benar-benar bosan liburan di rumah yang monoton dan menginginkan kegiatan seperti dulu saat SMK. Kemudian di awal semester tiga, Saya memutuskan untuk mengkuti UKM Racana dan Sangkatama. UKM Racana adalah UKM Pramuka yang ada di UPGRIS, sedangkan Sangkatama adalah UKM Seni Tari dan Karawitan di UPGRIS. Saya memilih kedua UKM ini, karena Saya sadar bahwa Jiwa dan Seni saya di Pramuka dan Tari belum bisa dipisahkan. Awal Saya mengikuti UKM Sangkatama berjalan dengan lancar hingga lolos berbagai seleksi untuk mengikuti pagelaran, sampai akhirnya pagelaran itu tidak jadi diadakan karena bergai hal. Kemudian Saya masih melanjutkan kegiatan Saya di Racana, ternyata di Racana itu terdapat bidang Paskibra yang dulu ketika SMK dua hal itu merupakan sesuatu yang berbeda, dan sekarang di Racana menjadi satu bagian. Tidak berfikir lama lagi, Saya langsung melilih bidang Paskibra. Di Racana Saya benar-benar menemukan suatu hal yang dulu pernah hilang. Di Racana Saya kembali belajar betorganisasi dan bersosialisasi dengan baik, di Racana juga Saya menemukan pekerjaan sampingan sebagai seorang mahasiswa, yaitu mengajar Pramuka. Saat ini Saya mengajar di empat sekolah yang ada di Semarang. Yaitu SD Islam Permatasari, SD Islam Istriati, SD Negeri Tlogosari Kulon 03, SD Negeri Negeri Bangetayu. Saya menikmati semua ini baik di Racana, Kuliah, maupun mengajar Pramuka.

Jumat, 23 Desember 2016



Budaya Jawa Patut untuk Dilestarikan

Saya setuju dengan opini dari Ari Kristianawati, yang dimuat oleh Tribun Jateng pada hari Jumat, 23 September 2015 dengan judul “Peter Van Lith dan Budaya Jawa”.  Di dalam opini tersebut disebutkan bahwa Peter Van Lith dianggap menjadikan kebudayaan jawa sebagai sosialreligiusitas yang memiliki etika kemanusiaan dan berpihak kepada kaum papa. Budaya jawa yang terdidi dari tradisi, budaya, dan bahasa secara keseluruhan memang memiliki nilai solidaritas tersendiri. Akan tetapi, budaya jawa yang didalamnya juga terdapat berbagai macam kompenen seperti bahasa, nyanyian tradisional, rumah adat, baju adat dan lain sebagainya, kini keberadaanya sudah jarang ditemui. Kita sebagai generasi muda seharusnya bangga akan berbagai macam kebudayaan dan melestarikannya, bukan malah bangga meniru kebiasaan orang dari negara lain. Saat ini kebanyakan orang tua lebih bangga mengajarkan anaknya bahasa asing daripada bahasa daerah, misalnya saja bahasa jawa. Padahal orang asing seperti Peter Van Lith saja mendapatkan penghargaan atas jasanya dalam budaya jawa, seharusnya kita sebagai pemilik budaya jawa itu sendiri bisa lebih mengembangkan dan melestarikan budaya jawa tersebut.
Kita dapat memulai melestarikan budaya jawa dari diri sendiri. Misalnya saja mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa yang mengandung unsur budaya jawa. Dalam hal keluarga sebaiknya orang tua tidak meninggalkan anaknya untuk mengajarkan bahasa ibunya yaitu bahasa jawa. Padahal sebenarya didalam bahasa jawa mengandung nilai-nilai kesopanan yang tinggi, misalnya saja ada adab berbicara dengan orang yang lebih tua dan dengan sesama. Hal ini juga dapat menumbuhkan karakter saling menghargai dan menghormati sehingga menciptakan generasi yang berkarakter. Belajar bahasa asing memang penting untuk bersaing di dunia internasional, tetapi dengan belajar bahasa asing juga jangan sampai melupakan bahasa ibu kita sendiri yaitu bahasa jawa.
Selain bahasa, di dalam budaya jawa juga terdapat nyanyian trasisional seperti gundul-gundul pacul, suwe ora jamu, lir ilir, siji-siji rojo pati dan lain sebagainya. Nyanyian tradisional tersebut juga harus di lestarikan. Kebanyakan anak saat ini lebih menyukai lagu-lagu yang tidak sesuai dengan usia mereka. Hal ini dapat disebabkan karena mereka tidak sering mendengarkannya. Padahal memperdengarkan anak dengan lagu yang tdak sesuai dengan usia mereka dapat membuat anak menjadi berpriaku kasar. Nah, tugas kita adalah kembali memperdengarkan lagu-lagu anak atau lagu tradisional ini terutama kepada anak-anak. Di dalam lagu tradisional ini juga terdapat berbagai macam pesan yang positif, tidak hanya untuk anak tetapi juga untuk semua khlayak.
Tidak hanya yang belum terlaksana saja dalam melestarikan budaya jawa, masyarakat kita juga sudah beberapa yang melestarikan budaya jawa. Seperti halnya memperingati Hari Kartini pada tanggal 21 April, biasanya di sekolah-sekolah untuk memperingati Hari Kartini mewajibkan siswanya untuk mengenakan pakaian adat dan melakukan berbagai macam lomba seperti pemilihan purti kartini atau fashion show, lomba memasak, menghias tumpeng, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan perempuan. Nah,dari kegiatan tersebut dapat meningkatkan rasa bangga dan cinta terhadap budaya Indonesia, salah satunya budaya jawa.
Sari Otavia Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Univrsitas PGRI Semarang


Sastra yang Mampu Membius Khalayak
Sari Otavia(PBSI 3D/15410172)
Saya tertarik untuk  menanggapi esai dari Aulia Rahmah Oktafiani mengenai pementasan teater Jaka Tarub dan Monolog Balada Sumarah yang dipentaskan pada tanggal 4 Oktober 2016 yang diadakan oleh Teater Gema di Gedung Pusat Lantai 7 Universitas PGRI Semarang. Aulia menggunakan judul “Apresiasi-apresiasi di Balik Pementasan Lawak Teater dan Sebuah Monolog di dalam esai tersebut. Sesuai judulnya pemetasan teater tersebut memang  layak untuk diapresiasi. Di dalam esai tersebut, Aulia menceritakan secara jelas adegan-adegan yang dilakukan oleh para pemain yang notabennya masih seorang mahasiswa. Saat saya membaca esai dari Aulia, saya ingin kembali menyaksikan pertunjukan teater dan monolog tersebut.
            Esai dari Aulia memang menceritakan pertunjukan  Teater Jaka Tarub dan Monoolog Balada Sumaranh dengan sangat jelas dan terperinci. Pada bagian pertama dimulai denngan menceitakan kisah seorang ayah yang bermimpi buruk tentang ankanya dan belum siap untuk kehilangan anaknnya. Di lain sesi, Aulia juga menceritakan tentang perjalanan Jaka Tarub sebelum menikah dengan Nawang Wulan. Jaka Tarub pernah bermimpi menikahi seorang bidadari, dan mimpi tersebut diceritakan oleh temannya. Temannya yang kaget tidak mempercayai mimpi Jaka Tarub tersebut dan mengaanggapnya hanya menghayal. Tetapi di kemudian hari mimpi tersebut memang benar-benar terjadi. Ketika Jaka Tarub sedang berburu di hutan ia melihat para bidadari yang sedang mandi. Adegan bidadari yang turun  dari khayangan dan mandi di sungai itu merupakan adegan yang bagi saya sendiri  sangat menarik, karena penataan panggung dengan membuat tangga berwarna hitam sebagai jalan para bidadari turun dari khayangan memberikan efek seperti bidadari tersebut sedang terbang. Sunggunh diperlukan kreativitas untuk membuat dan memainkan sebuah teater. Tidak hanya itu, adegan mandi di sungai juga terkesan kreatif, karena menggunakan plastik bening atau transparan sebagai pengganti air.
            Setelah Jaka Tarub melihat para bidadari yang sedang mandi dan meninggalkan pakaiannya, Jaka kemudian mengambil salah satu selendang dari bidadari-bidadari tersebut. Ternyata, selendang  yang diambil oleh Jaka Tarub adalah selendang dari Nawang Wulan.  Nawang Wulan kebingungan mencar di mana selendangnya tersebut dan membuat saembara, apabila ada seseorang yang memberinya pakaian atau menemukan selandang miliknnya, apabila perempuan akan dijadikan saudara dan apabila laki-laki akan dijadikannya suami. Mendengar itu, Jaka pun memberikan baju milik kepada Nawang Wulan dan akhirnya mereka pun menikah dan mempunyai seorang anak bernama Nawang Sih.
            Disuatu hari Nawang Wulan sedang memasak, tetapi karena ingin mencucui baju, Nawang Wulan pun berpesan kepada suaminya untuk menjaga anaknya dan  tidak membuka masakannya. Karena penasaran apa yang sedang dimasak istrinya, Jaka pun mengintip dan menanyakan kepada istrinya apa yang ia  lihat. Mendengar cerita Jaka Nawang Wulan kecewa sekaligus terkejut karena suaminya melanggar janji. Di sisi lain, Nawang Wulan   menemukan selendang miliknya berada di rumah Jaka Tarub, melihat itu semua Nawang Wulan terkejut dan langsung menanyakan kepada Jaka. Semua kejadian hari ini membuat Nawang benar-benar kecewa dengan Jaka Tarub dan memutuskan untuk kembali ke kayangan. Di sela-sela pertunjukan Teater Jaka Tarub, juga diselingi lawakan yang lain, yaitu lawakan Tomo dan Topo yang membicarakan tentang Pemilihan Umum yang sedang marak terjadi di Indonesia. Dalam lawakan Tomo dan Topo mengandung berbagai macam pesan moral,terutama untuk Pemlihan Umum dan sikap seorang pemimpin dan masyarakat di Indonesia. Seperti seorang pemimpin dan masyarakat  itu tidak hanya memperhatikan apa yang menjadi haknya tetapi ugaa harus memperhatikan apa kewajiban yang harus dilakukannya.
            Setelah pementsan Teater Jaka Tarub selesai dilanjutkan dengan pementasan Monolog Balada Sumarah yang sangat berkesan bagi para penontonnya. Bagaimana tidak, monolog yang memang dimainkan oleh satu orang dan  memerankan berbagai macam karakter mampu  membius dan membuat penonton takjub dengan perubahan ekspresinya. Pantas saja apabila Monolog Balada Sumarah ini mampu menjuarai ajang perlombaan PEKSIMIDA dan mewakili Jawa Tengah di tingkat nasional pada PEKSIMINAS. Monolog Balada Sumarah menceritakan seorang anak yang orang tuanya dituduh menjadi anggota PKI dan terus mendapat ketidakadilan di negri sendiri. Akhirnya Sumarah pun merantau ke Negri Jiran berharap dapat memperoleh hidup yang layak di  sana dengan menjadi TKW. Tetapi, kenyataan di negri Jiran jauh dari harapan Sumarah, di sana Sumarah diperlakukan tidak adil, disiksa, bahkan Sumrah juga menapatkan pelecehan seksual yang dilakukan oluh majukannya sendiri. Sekian lama Sumarah bungkam tentang perilku majikannnya itu, akhirnya Sumarah pun brontak dan menghabisi nyawa majkannnya. Tak perduli bagaimana dan seberat apa dia akan dihukum. Suamarah juga ingin merasakan bagaimana menjadi seorang yang bersalah walaupun sebenarnya dia jugatidak bersalah. Dia tidak yakin hkum di negaranya akan membelanya, karena sumarah juga pernah memperoleh ketidak adilan di negaranya.Ternyata  predikat NEM tertinggi pun tidak dapat menjamin pekerjaan seseorang.  Sungguh sangat malang nasib seorang anak dari korban fitnah menjadi anak dari anggota PKI.
            Cerita dari Monolog Balada Sumarah saja sudah menarik dan berasal dari fakta yang tejadi di Indonesia, apalagi Pementasan Monolog Balada Sumarah juga tersusun secara rapi dan kreatif pembawaan sang pemain juga sangat totalitas, selain itu, Banyak TKW maupun TKI yang memperoeh ketidakadilan di negara tetangga dan pemerintah Indonesia juga tidak banyak yang mengetahui serta melakukan tindakan yang lebih lanjut. Semoga pemerintah Indonesia mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang memadai dan terjamin keamanannya, agar tidak banyak masyarakat Indonesia yang mencari pekerjaan di negara lain.
Sari Otavia, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas PGRI Semarang


Teater yang Menggema
Oleh : Sari Otavia(15410172)
          Pertunjukan seni teater merupakan ajang unjuk bermain peran. Banyak aktor maupun aktris yang dulunya menekuni seni teater dan sudah berhasil dalam bidangnya. Bakat dapat dilatih mulai dari usia dini. Saat ini di berbagai daerah, sekolah maupun perguruan tinggi sudah banyak kelompok atau perkumpulan teater. Salah satunya Teater Gema di Universitas PGRI Semarang. Kemarin, pada tanggal 4 Oktober Teater Gema baru saja mengadakan sebuah pentas pertunjukan teater yang berjudul Pentas Jaka Tarub dan Pentas Monolog Balada Sumarah.
 Pentas Jaka Tarub menceritakan tentang kisah seorang pemuda yang bernama Jaka Tarub dan seorang bidadari yang bernama Nawang Wulan. Mereka berdua menikah karena Jaka Tarub mengambil selendang milik Nawang Wulan tanpa sepengetahuannya. Kemudian, Nawang Wulan membuat saembara “barang siapa yang menemukan atau memberikan saya baju, apabila perempuan akan saya jadikan saudara dan apabila laki-laki maka akan dijadikan suami”. Mendengar itu, Jaka Tarub pun senang karena mimpinya menikah dengan bidadari akan segera terwujud. Akhirnya mereka pun menikah dan Nawang Wulan melahirkan anak perempuan yang bernama Nawang Sih. Tetapi setelah Nawang Sih lahir banyak perdebatan diantara mereka. Pada suatu ketika saat Nawang Wulan akan mencuci pakaian di sungai, dia menitipkan anaknya kepada Jaka Tarub dan berpesan supaya tidak membuka panci yang di dalamnya sedang dimasak nasi. Karena penasaran, Jaka Tarub pun mengintipnya dan setelah istrinya, Nawang Wulan kembali ke rumah, Jaka Tarub menanyakan apa yang ia lihat di dalam panci tersebut. Mendengar pertanyaan suaminya Nawang Wulan pun marah, selain karena suaminya tidak menepati jaanji untuk tidak membuka panci itu, kesaktian Nawang Wulan sebagai seorang bidadari pun menjadi hilang karena ulah suaminya itu. Beberapa saat kemudian Nawang Wulan juga menemukan selendang miliknya yang berada di tempat penyimpanan padi. Melihat itu semua, Nawang Wulan pun terkejut dan benar-benar marah dengan Jaka Tarub. Kemarahan dan kekecewaan  Nawang Wulan tidak bisa lagi dihentikan. Akhirnya Nawang Wulan kembali ke kayangan dan meninggalkan Jaka Tarub. Banyak pesan yang dapat diambil dalam setiap pertunjukan teater salah satunya di pertunjukan Jaka Tarub ini. Pertunjukan yang baik dan bagus dari sebuah pertunjukan teater adalah dari bagaimana cara mengemas pertunjukan itu, pesan moral yang disampaikan, tata panggung, lighting, dan faktor pendukung lainnya.
Selain Pentas Jaka Tarub, Teater Gema juga menampilkan Pentas Monolog Balada Sumarah yang telah berhasil memenangkan lomba PEKSIMIDA tingkat Jawa Tengah dan mewakili Jawa Tengah di tingkat nasional. Monolog ini menceritakan kisah  tentang seorang anak bernama Sumarah yang orang tuanya dituduh menjadi anggota PKI dan kemudian karena dikucilkan oleh semua orang, dia memutuskan untuk menjadi TKW di Arab. Dengan harapan dapat mengubah hidupnya di sana, Sumarah sangat bersemangat ketika akan berangkat menuju Arab, tetapi harapannya pun sirna, di sana ia mendapat perlakuan tidak senonoh oleh majikannya. Bahkan dia sering di siksa dan pernah mendapatkan pelecehan seksual oleh majikannya itu. Setelah sekian lama Sumarah bungkam mengenai prilaku majikannya itu, akhirnya ia pun membunuh sang majikan. Walaupun ia tau kalau akhirnya dia akan dipenjara.
Singkat cerita dari Pentas Monolog Balada Sumarah ini seperti kehidupan nyata yang sering terjadi di Indonesia. Banyak Tenaga Kerja Wanita yang bekerja di luar negri mendapatkan perlakuan yang tidak adil layaknya manusia. Saking tidak tahannya dengan berbagai macam prilaku majikan, TKW pun terkadang membunuh sang majukan. Tenaga kerja indonesia yang baru  sekali berbuat kesalahan langsung dihakimi dengan hukuman yang seberat-beratnya, bahkan ada yang dihukum mati dan jenazahnya tidak dikembalikan ke tanah air. Padahal itu tidak sepenuhnya salah tenaga kerja indonesia, terlebih majikan mereka lebih banyak melakukan tindak kekerasan, asusila, maupun pelanggaran HAM lainnya yang lebih berat dibandikan dengan tenaga kerja kita. Ironisnya, pemerintah di Indonesia tidak dapat melakukan apa-apa melihat semuanya terjadi. Semoga Tenaga Kerja Indonesia maupun Tenaga Kerja Wanita dapat pemperoleh keadilan yang sebenarnya.
Setiap pertunjukan drama ataupun teater yang disajikan secara runtut dan apik selalu berkesan bagi penikmatnya. Terlebih jika penampilan sebuah teater berbeda dari yang biasanya. Dalam memerankan seni berteater banyak ketrampilan yang harus dikuasai oleh pemainnya, misalnya saja olah suara haruslah lantang, jelas dan berkarakter. Sebelum melaksanakan sebuah pertunjukan yang besar, para pemain rutin melakukan latihan. Tidak hanya latihan naskah dan akting, melainkan latihan fisik seperti lari, push up, sit up, back up,  dan lain sebagainya untuk mendukung serta melatih kemampuan seni bermain peran ini. Tidak ada salahnya mencoba  berlatih bermain peran, selain melatih kemampuan berbahasa, berlatih bermain peran juga dapat membuat tingkat pecaya diri seseorang meningkat karena seringnya tampil di depan umum. Selain itu seni bermain peran juga bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan intelektual, imajinatif, ekspresi, kepekaan kreatif, ketrampilan, dan mengapresiasi terhadap hasil karya seni dan ketrampilan. Disamping itu terdapat manfaat yang sangat penting bagi anak dalam belajar seni secara umum, yaitu membantu pertumbuhan mental anak. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi pembacanya dan lebih banyak lagi calon-calon penerus bangsa yang memanfaatkan waktu luangnya dengan berbagai macam kegiatan-kegiatan yang bermaanfaat.