Jumat, 23 Desember 2016



Sastra yang Mampu Membius Khalayak
Sari Otavia(PBSI 3D/15410172)
Saya tertarik untuk  menanggapi esai dari Aulia Rahmah Oktafiani mengenai pementasan teater Jaka Tarub dan Monolog Balada Sumarah yang dipentaskan pada tanggal 4 Oktober 2016 yang diadakan oleh Teater Gema di Gedung Pusat Lantai 7 Universitas PGRI Semarang. Aulia menggunakan judul “Apresiasi-apresiasi di Balik Pementasan Lawak Teater dan Sebuah Monolog di dalam esai tersebut. Sesuai judulnya pemetasan teater tersebut memang  layak untuk diapresiasi. Di dalam esai tersebut, Aulia menceritakan secara jelas adegan-adegan yang dilakukan oleh para pemain yang notabennya masih seorang mahasiswa. Saat saya membaca esai dari Aulia, saya ingin kembali menyaksikan pertunjukan teater dan monolog tersebut.
            Esai dari Aulia memang menceritakan pertunjukan  Teater Jaka Tarub dan Monoolog Balada Sumaranh dengan sangat jelas dan terperinci. Pada bagian pertama dimulai denngan menceitakan kisah seorang ayah yang bermimpi buruk tentang ankanya dan belum siap untuk kehilangan anaknnya. Di lain sesi, Aulia juga menceritakan tentang perjalanan Jaka Tarub sebelum menikah dengan Nawang Wulan. Jaka Tarub pernah bermimpi menikahi seorang bidadari, dan mimpi tersebut diceritakan oleh temannya. Temannya yang kaget tidak mempercayai mimpi Jaka Tarub tersebut dan mengaanggapnya hanya menghayal. Tetapi di kemudian hari mimpi tersebut memang benar-benar terjadi. Ketika Jaka Tarub sedang berburu di hutan ia melihat para bidadari yang sedang mandi. Adegan bidadari yang turun  dari khayangan dan mandi di sungai itu merupakan adegan yang bagi saya sendiri  sangat menarik, karena penataan panggung dengan membuat tangga berwarna hitam sebagai jalan para bidadari turun dari khayangan memberikan efek seperti bidadari tersebut sedang terbang. Sunggunh diperlukan kreativitas untuk membuat dan memainkan sebuah teater. Tidak hanya itu, adegan mandi di sungai juga terkesan kreatif, karena menggunakan plastik bening atau transparan sebagai pengganti air.
            Setelah Jaka Tarub melihat para bidadari yang sedang mandi dan meninggalkan pakaiannya, Jaka kemudian mengambil salah satu selendang dari bidadari-bidadari tersebut. Ternyata, selendang  yang diambil oleh Jaka Tarub adalah selendang dari Nawang Wulan.  Nawang Wulan kebingungan mencar di mana selendangnya tersebut dan membuat saembara, apabila ada seseorang yang memberinya pakaian atau menemukan selandang miliknnya, apabila perempuan akan dijadikan saudara dan apabila laki-laki akan dijadikannya suami. Mendengar itu, Jaka pun memberikan baju milik kepada Nawang Wulan dan akhirnya mereka pun menikah dan mempunyai seorang anak bernama Nawang Sih.
            Disuatu hari Nawang Wulan sedang memasak, tetapi karena ingin mencucui baju, Nawang Wulan pun berpesan kepada suaminya untuk menjaga anaknya dan  tidak membuka masakannya. Karena penasaran apa yang sedang dimasak istrinya, Jaka pun mengintip dan menanyakan kepada istrinya apa yang ia  lihat. Mendengar cerita Jaka Nawang Wulan kecewa sekaligus terkejut karena suaminya melanggar janji. Di sisi lain, Nawang Wulan   menemukan selendang miliknya berada di rumah Jaka Tarub, melihat itu semua Nawang Wulan terkejut dan langsung menanyakan kepada Jaka. Semua kejadian hari ini membuat Nawang benar-benar kecewa dengan Jaka Tarub dan memutuskan untuk kembali ke kayangan. Di sela-sela pertunjukan Teater Jaka Tarub, juga diselingi lawakan yang lain, yaitu lawakan Tomo dan Topo yang membicarakan tentang Pemilihan Umum yang sedang marak terjadi di Indonesia. Dalam lawakan Tomo dan Topo mengandung berbagai macam pesan moral,terutama untuk Pemlihan Umum dan sikap seorang pemimpin dan masyarakat di Indonesia. Seperti seorang pemimpin dan masyarakat  itu tidak hanya memperhatikan apa yang menjadi haknya tetapi ugaa harus memperhatikan apa kewajiban yang harus dilakukannya.
            Setelah pementsan Teater Jaka Tarub selesai dilanjutkan dengan pementasan Monolog Balada Sumarah yang sangat berkesan bagi para penontonnya. Bagaimana tidak, monolog yang memang dimainkan oleh satu orang dan  memerankan berbagai macam karakter mampu  membius dan membuat penonton takjub dengan perubahan ekspresinya. Pantas saja apabila Monolog Balada Sumarah ini mampu menjuarai ajang perlombaan PEKSIMIDA dan mewakili Jawa Tengah di tingkat nasional pada PEKSIMINAS. Monolog Balada Sumarah menceritakan seorang anak yang orang tuanya dituduh menjadi anggota PKI dan terus mendapat ketidakadilan di negri sendiri. Akhirnya Sumarah pun merantau ke Negri Jiran berharap dapat memperoleh hidup yang layak di  sana dengan menjadi TKW. Tetapi, kenyataan di negri Jiran jauh dari harapan Sumarah, di sana Sumarah diperlakukan tidak adil, disiksa, bahkan Sumrah juga menapatkan pelecehan seksual yang dilakukan oluh majukannya sendiri. Sekian lama Sumarah bungkam tentang perilku majikannnya itu, akhirnya Sumarah pun brontak dan menghabisi nyawa majkannnya. Tak perduli bagaimana dan seberat apa dia akan dihukum. Suamarah juga ingin merasakan bagaimana menjadi seorang yang bersalah walaupun sebenarnya dia jugatidak bersalah. Dia tidak yakin hkum di negaranya akan membelanya, karena sumarah juga pernah memperoleh ketidak adilan di negaranya.Ternyata  predikat NEM tertinggi pun tidak dapat menjamin pekerjaan seseorang.  Sungguh sangat malang nasib seorang anak dari korban fitnah menjadi anak dari anggota PKI.
            Cerita dari Monolog Balada Sumarah saja sudah menarik dan berasal dari fakta yang tejadi di Indonesia, apalagi Pementasan Monolog Balada Sumarah juga tersusun secara rapi dan kreatif pembawaan sang pemain juga sangat totalitas, selain itu, Banyak TKW maupun TKI yang memperoeh ketidakadilan di negara tetangga dan pemerintah Indonesia juga tidak banyak yang mengetahui serta melakukan tindakan yang lebih lanjut. Semoga pemerintah Indonesia mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang memadai dan terjamin keamanannya, agar tidak banyak masyarakat Indonesia yang mencari pekerjaan di negara lain.
Sari Otavia, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas PGRI Semarang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar