Sastra yang Mampu Membius
Khalayak
Sari Otavia(PBSI 3D/15410172)
Saya
tertarik untuk menanggapi esai dari
Aulia Rahmah Oktafiani mengenai pementasan teater Jaka Tarub dan Monolog Balada
Sumarah yang dipentaskan pada tanggal 4 Oktober 2016 yang diadakan oleh Teater
Gema di Gedung Pusat Lantai 7 Universitas PGRI Semarang. Aulia menggunakan
judul “Apresiasi-apresiasi di Balik Pementasan Lawak Teater dan Sebuah Monolog
di dalam esai tersebut. Sesuai judulnya pemetasan teater tersebut memang layak untuk diapresiasi. Di dalam esai
tersebut, Aulia menceritakan secara jelas adegan-adegan yang dilakukan oleh
para pemain yang notabennya masih seorang mahasiswa. Saat saya membaca esai
dari Aulia, saya ingin kembali menyaksikan pertunjukan teater dan monolog
tersebut.
Esai dari Aulia memang menceritakan
pertunjukan Teater Jaka Tarub dan
Monoolog Balada Sumaranh dengan sangat jelas dan terperinci. Pada bagian
pertama dimulai denngan menceitakan kisah seorang ayah yang bermimpi buruk
tentang ankanya dan belum siap untuk kehilangan anaknnya. Di lain sesi, Aulia
juga menceritakan tentang perjalanan Jaka Tarub sebelum menikah dengan Nawang
Wulan. Jaka Tarub pernah bermimpi menikahi seorang bidadari, dan mimpi tersebut
diceritakan oleh temannya. Temannya yang kaget tidak mempercayai mimpi Jaka
Tarub tersebut dan mengaanggapnya hanya menghayal. Tetapi di kemudian hari
mimpi tersebut memang benar-benar terjadi. Ketika Jaka Tarub sedang berburu di
hutan ia melihat para bidadari yang sedang mandi. Adegan bidadari yang turun dari khayangan dan mandi di sungai itu
merupakan adegan yang bagi saya sendiri
sangat menarik, karena penataan panggung dengan membuat tangga berwarna
hitam sebagai jalan para bidadari turun dari khayangan memberikan efek seperti
bidadari tersebut sedang terbang. Sunggunh diperlukan kreativitas untuk membuat
dan memainkan sebuah teater. Tidak hanya itu, adegan mandi di sungai juga
terkesan kreatif, karena menggunakan plastik bening atau transparan sebagai
pengganti air.
Setelah Jaka Tarub melihat para
bidadari yang sedang mandi dan meninggalkan pakaiannya, Jaka kemudian mengambil
salah satu selendang dari bidadari-bidadari tersebut. Ternyata, selendang yang diambil oleh Jaka Tarub adalah selendang
dari Nawang Wulan. Nawang Wulan
kebingungan mencar di mana selendangnya tersebut dan membuat saembara, apabila
ada seseorang yang memberinya pakaian atau menemukan selandang miliknnya,
apabila perempuan akan dijadikan saudara dan apabila laki-laki akan
dijadikannya suami. Mendengar itu, Jaka pun memberikan baju milik kepada Nawang
Wulan dan akhirnya mereka pun menikah dan mempunyai seorang anak bernama Nawang
Sih.
Disuatu hari Nawang Wulan sedang
memasak, tetapi karena ingin mencucui baju, Nawang Wulan pun berpesan kepada
suaminya untuk menjaga anaknya dan tidak
membuka masakannya. Karena penasaran apa yang sedang dimasak istrinya, Jaka pun
mengintip dan menanyakan kepada istrinya apa yang ia lihat. Mendengar cerita Jaka Nawang Wulan
kecewa sekaligus terkejut karena suaminya melanggar janji. Di sisi lain, Nawang
Wulan menemukan selendang miliknya
berada di rumah Jaka Tarub, melihat itu semua Nawang Wulan terkejut dan
langsung menanyakan kepada Jaka. Semua kejadian hari ini membuat Nawang
benar-benar kecewa dengan Jaka Tarub dan memutuskan untuk kembali ke kayangan. Di
sela-sela pertunjukan Teater Jaka Tarub, juga diselingi lawakan yang lain,
yaitu lawakan Tomo dan Topo yang membicarakan tentang Pemilihan Umum yang
sedang marak terjadi di Indonesia. Dalam lawakan Tomo dan Topo mengandung
berbagai macam pesan moral,terutama untuk Pemlihan Umum dan sikap seorang
pemimpin dan masyarakat di Indonesia. Seperti seorang pemimpin dan
masyarakat itu tidak hanya memperhatikan
apa yang menjadi haknya tetapi ugaa harus memperhatikan apa kewajiban yang
harus dilakukannya.
Setelah pementsan Teater Jaka Tarub
selesai dilanjutkan dengan pementasan Monolog Balada Sumarah yang sangat
berkesan bagi para penontonnya. Bagaimana tidak, monolog yang memang dimainkan
oleh satu orang dan memerankan berbagai
macam karakter mampu membius dan membuat
penonton takjub dengan perubahan ekspresinya. Pantas saja apabila Monolog
Balada Sumarah ini mampu menjuarai ajang perlombaan PEKSIMIDA dan mewakili Jawa
Tengah di tingkat nasional pada PEKSIMINAS. Monolog Balada Sumarah menceritakan
seorang anak yang orang tuanya dituduh menjadi anggota PKI dan terus mendapat
ketidakadilan di negri sendiri. Akhirnya Sumarah pun merantau ke Negri Jiran
berharap dapat memperoleh hidup yang layak di
sana dengan menjadi TKW. Tetapi, kenyataan di negri Jiran jauh dari
harapan Sumarah, di sana Sumarah diperlakukan tidak adil, disiksa, bahkan
Sumrah juga menapatkan pelecehan seksual yang dilakukan oluh majukannya
sendiri. Sekian lama Sumarah bungkam tentang perilku majikannnya itu, akhirnya
Sumarah pun brontak dan menghabisi nyawa majkannnya. Tak perduli bagaimana dan
seberat apa dia akan dihukum. Suamarah juga ingin merasakan bagaimana menjadi
seorang yang bersalah walaupun sebenarnya dia jugatidak bersalah. Dia tidak
yakin hkum di negaranya akan membelanya, karena sumarah juga pernah memperoleh
ketidak adilan di negaranya.Ternyata predikat NEM tertinggi pun tidak dapat
menjamin pekerjaan seseorang. Sungguh
sangat malang nasib seorang anak dari korban fitnah menjadi anak dari anggota
PKI.
Cerita dari Monolog Balada Sumarah
saja sudah menarik dan berasal dari fakta yang tejadi di Indonesia, apalagi Pementasan
Monolog Balada Sumarah juga tersusun secara rapi dan kreatif pembawaan sang
pemain juga sangat totalitas, selain itu, Banyak TKW maupun TKI yang memperoeh
ketidakadilan di negara tetangga dan pemerintah Indonesia juga tidak banyak
yang mengetahui serta melakukan tindakan yang lebih lanjut. Semoga pemerintah
Indonesia mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang memadai dan terjamin
keamanannya, agar tidak banyak masyarakat Indonesia yang mencari pekerjaan di
negara lain.
Sari Otavia, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,
Universitas PGRI Semarang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar